Skip to main content

Kopi, Lukisan dan Kenangan (Wira Nagara)

Lihat...

Tepat setelah lampu-lampu dipadamkan
Kau menyala sebagai satu-satunya yang ku rindukan

Disini,
Di tempat yang paling kau hindari
Aku pernah berdiri
Menggores kata menulis warna
Pada ratapan panjang yang menguat dalam dinding kecemasan
Aku mengisahkan kenangan di kepasrahan yang begitu lapang

Retak berserakan..
Tanpa kediaman
Terkoyak sepi, melayang di antara pekat aroma kopi

Dengar..
Tepat setelah jejak-jejak di langkahkan
kau menyapa sebagai satu-satunya yang ku nantikan
Disini, di peluk yang pernah kau nikmati
Aku masih sendiri
Mencari kehilangan, menemui perpisahan

Pada letupan kenang yang memuat kekosongan
Aku membicarakan senyummu di keindahan yang telah hilang
Hancur berkeping, tersapu kesunyian, terinjak lara
terlarut dalam pahit di seduh air mata

Tunggu..
Santailah sejenak
Karna tepat setelah meja-meja di tinggalkan
Kedai ini menyesak sebagai satu-satunya keterangan

Satu kisah yang pernah kita upayakan
Beribu rencana yang pernah kita perjuangan, lenyap
kau memutuskan berpindah hati
Sebelum satu persatu rencana berhasil diwujudkan

Menggores kesadaran
menyayat perasaan

Pada setiap kata uang memuat pernyataan
Aku mencari kau yang ku rindukan
Aku menyapa kau yang aku nantikan

Aku mencari
Aku menyapa
Aku menanti
Aku merindu
Aku terisak
Aku menunggu hadirmu

Dan kini, satu-satunya yang tersisa hanyalah goresan yang ku buat
sabagai prasasti kesendirian
Kapanpun sunyi merasuk jiwamu, kemarilah
pesan kopi terpahit dengan kenangan termanismu
Genggam kesedihanmu sebagai duka paling bahagia

Dan bila hatimu butuh didengarkan
Temui aku  dalam perbincangan, niscaya kopi yang kau pesan
tak akan sepahit kehilangan.

Comments

Popular posts from this blog

Day 8 Mengendalikan Diri

Happy Friday! Ah baru saja mencoba untuk konsisten nyatanya baru jalan beberapa hari sudah mulai menunda-nunda. Sedih? Iya lah, baru hal kecil seperti ini ibaratnya sesederhana menuangkan pikiran ke dalam tulisan saja nggak bisa istiqomah apalagi yang lainnya.*sambil sesenggukan dipojok. Bismillah selalu kembali mengingat motivasi dan niat awal untuk menulis rutin ketika mulai diserang prokastinasi. Kali ini aku mau bahas tentang pengendalian diri, termasuk menunda-nunda sesuatu adalah salah satu ketidakmampuan dalam mengendalikan diri. Ngga usah jauh-jauh aku sendiri masih tahap belajar mengendalikan diri, terutama mengendalikan pikiran dan perasaan agar bisa berimbang. Terlalu dominan perasaan berakibat kurang baik, begitu juga ketika kita terlalu mengedepankan logika tanpa adanya unsur perasaan. Memang harus seimbang, keduanya harus ada untuk saling melengkapi. Bagi perempuan, perasaan seringkali lebih mendominasi dalam pengambilan keputusan, baik yang berkaitan dengan diri sendi...

Nelangsa by Nidji

Bunga tunggal di karang Cantik tidak tergenggam Terpisah takdir dunia Sepertimu Hanya bisa kupandang Tidak dapat kusayang Mengharapkan jawaban Yang telah hilang Datang lagi ke hidupku Saat jauh-dekat Semuanya sama 'Ku selalu mencintaimu Sepertimu Hanya bisa kupandang 'Ku menanti dirimu Kembali ke pelukku Yang telah hilang Datang lagi ke hidupku Saat jauh-dekat Semuanya sama 'Ku selalu mencintaimu Saat jauh-dekat Semuanya sama Kau selalu dalam hatiku Tak ada yang berubah Walau bulan mentari hilang 'Ku tetap mencintaimu Dirimu...