Judul ini
ku pilih karena menggambarkan cerita hidupku kali ini. Setelah beberapa episode
bertahanku akhirnya jebol juga, sudah saatnya ku dobrak. Aku tidak ingin
berlarut lama dalam masa lalu, bagiku sedetik yang lalu sudah disebut masa lalu
apalagi yang telah lalu dan lalu. Cukup sudah, cukup dengan semua ini. Terima kasih
atas episode hidup bersamamu. Walau kesal berakhirnya memang harus seperti ini,
aku tak memungkiri, banyak ku ambil makna dari episode selama hampir empat
tahun bersamamu. Terima kasih atas arahan bagi diri ini yang ketika itu masih
ragu memilih bidang ini, psikologi, mau tak mau, bersamamu akupun jatuh cinta
dengan bidang ini, bidang yang tak akan habis untuk dikaji dan diaplikasi. Saat
ini, aku tidak berniat belok kemana-mana, apalagi merubah haluan walau itu tak
harus bersamamu. Karena ku sadar, bersamamu tak menjadikanku memilih jalan ini
dengan caraku, aku tidak menjadi diriku sendiri walau tujuan kita sama. Semoga
keputusan yang kupilih ini memang pintu untukku menjadi diriku sendiri, menjadi
tegas dan berprinsip, menjadi wanita yang lebih baik akhlak dan ilmunya. Pahit memang
mengambil keputusan ini, tetapi seperti kata seorang penulis dalam bukunya bahwa
sakit hati dan jatuh cinta itu hanya sementara. Semua ini akan berlalu dan
menjadi baik karena terbiasa. Seperti halnya kita memulai ini terdahulu.
Happy Friday! Ah baru saja mencoba untuk konsisten nyatanya baru jalan beberapa hari sudah mulai menunda-nunda. Sedih? Iya lah, baru hal kecil seperti ini ibaratnya sesederhana menuangkan pikiran ke dalam tulisan saja nggak bisa istiqomah apalagi yang lainnya.*sambil sesenggukan dipojok. Bismillah selalu kembali mengingat motivasi dan niat awal untuk menulis rutin ketika mulai diserang prokastinasi. Kali ini aku mau bahas tentang pengendalian diri, termasuk menunda-nunda sesuatu adalah salah satu ketidakmampuan dalam mengendalikan diri. Ngga usah jauh-jauh aku sendiri masih tahap belajar mengendalikan diri, terutama mengendalikan pikiran dan perasaan agar bisa berimbang. Terlalu dominan perasaan berakibat kurang baik, begitu juga ketika kita terlalu mengedepankan logika tanpa adanya unsur perasaan. Memang harus seimbang, keduanya harus ada untuk saling melengkapi. Bagi perempuan, perasaan seringkali lebih mendominasi dalam pengambilan keputusan, baik yang berkaitan dengan diri sendi...

Comments
Post a Comment