Skip to main content

Day 8 Mengendalikan Diri

Happy Friday!
Ah baru saja mencoba untuk konsisten nyatanya baru jalan beberapa hari sudah mulai menunda-nunda. Sedih? Iya lah, baru hal kecil seperti ini ibaratnya sesederhana menuangkan pikiran ke dalam tulisan saja nggak bisa istiqomah apalagi yang lainnya.*sambil sesenggukan dipojok. Bismillah selalu kembali mengingat motivasi dan niat awal untuk menulis rutin ketika mulai diserang prokastinasi. Kali ini aku mau bahas tentang pengendalian diri, termasuk menunda-nunda sesuatu adalah salah satu ketidakmampuan dalam mengendalikan diri. Ngga usah jauh-jauh aku sendiri masih tahap belajar mengendalikan diri, terutama mengendalikan pikiran dan perasaan agar bisa berimbang. Terlalu dominan perasaan berakibat kurang baik, begitu juga ketika kita terlalu mengedepankan logika tanpa adanya unsur perasaan. Memang harus seimbang, keduanya harus ada untuk saling melengkapi. Bagi perempuan, perasaan seringkali lebih mendominasi dalam pengambilan keputusan, baik yang berkaitan dengan diri sendiri maupun orang lain di sekitarnya. Pengendalian diri yang baik pada seorang perempuan, selain sisi perasaan tentunya ia harus mempertimbangkan secara logika. Aku sendiri sering menilai diriku terlalu lamban dalam mengambil keputusan, setelah aku pikirkan dan mengevaluasi apa yang selama ini aku lakukan ternyata walaupun dari luar terkesan “baperan” atau dominan perasaan, di dalamnya sungguh banyak sekali pertimbangan yang aku pikirkan sebelum melakukan suatu hal.
Lalu kemana logika saat kita sedang jatuh cinta? Hanya orang-orang tertentulah yang bisa tetap waras (menggunakan logika) saat terjangkiti virus satu ini. Sulit memang mengendalikan perasaan yang begitu membuncah dengan logika yang seringkali bertentangan, tidak sesuai keinginan bahkan menyakitkan. Tetapi untuk sedikit orang, mereka bisa mengendalikan diri dengan menyeimbangkan antara pikiran dan perasaan pun saat jatuh cinta melanda. Siapa orang itu? Yang pasti bukan saya. Haha.
Tentang berpikir sebelum bertindak, mempertimbangkan segala sesuatu memang penting namun bukan berarti kita harus berlarut-larut memikirkannya sehingga tidak kunjung melakukan action. Ketika kita pertama kali dihadapkan pada sebuah permasalahan, seringkali yang muncul adalah reaksi emosional tanpa berpikir panjang. Hanya 20% manusia yang menggunakan kemampuan berpikirnya. Manusia cenderung reaktif ketika ada masalah baru. Lalu bagaimana?apakah kemampuan berpikir yang baik bisa dilatih? Kemampuan berpikir yang buruk akan berakibat buruk tentunya. Mari kita belajar bersama tentang ini. Seorang tokoh motivator, Edward De Bono mencetuskan tentang strategi berpikir menggunakan enam topi berpikir sehingga apa yang kita putuskan bisa cepat tepat dan efektif sehingga nantinya mempunyai dampak positif. Berikut pemaparan tentang topi berpikir tersebut :

  1. Topi putih: mencari fakta, bukti, kenyataan
  2. Topi merah: emosi, menurut perasaan, intuisi, feeling, tidak bisa dijelaskan logika dan tanpa memperhatikan fakta yang ada.
  3. Topi kuning: sesuatu yang bermanfaat, keuntungan dan dampak positif.
  4. Topi hitam: sesuatu yang negatif, resiko, efek negatif dan kerugian. Perlu dipikirkan juga supaya tidak terjadi atau kemungkinannya kecil apa yang perlu  dilakukan.
  5. Topi hijau: mencari alternatif, cara lain, berpikir kreatif, out of the box, membuka kemungkinan yang lain. Tidak perlu dirasional, tidak boleh dihakimi dan sebanyak mungkin.
  6.  Topi biru: berpikir untuk berpikir, menentukan struktur atau alur berpikir.
Cara menggunakan ke enam topi berpikir ini , ketika kita dihadapkan pada suatu ide/masalah. Pertama, kita memakai topi biru, lalu topi hijau, selanjutnya topi putih, dilanjutkan topi kuning, setelah itu topi hitam, ambil kesimpulannya lalu gunakan topi merah setelah kita menemukan fakta dan solusi pemecahannya, rasakan feelingnya, perkuat intuisinya untuk take action. Setelah tahu cara berpikir ini tentunya, kita lebih mempertimbangkan untuk menjadi reaktif atau menggunakan emosional ketika dihadapkan pada suatu masalah. Ini merupakan salah satu cara mengendalikan diri juga agar kita tidak larut dalam emosi semata. Menjadi sadar dengan kondisi diri kita sendiri adalah sesuatu yang bijak, memahami sepenuhnya bukan berarti dengan memberikan toleransi yang tinggi terhadap apa-apa yang kita lakukan, tetapi kita tahu kapan mengendalikan diri kita. Salam sadar!



Comments

Popular posts from this blog

Kopi, Lukisan dan Kenangan (Wira Nagara)

Lihat... Tepat setelah lampu-lampu dipadamkan Kau menyala sebagai satu-satunya yang ku rindukan Disini, Di tempat yang paling kau hindari Aku pernah berdiri Menggores kata menulis warna Pada ratapan panjang yang menguat dalam dinding kecemasan Aku mengisahkan kenangan di kepasrahan yang begitu lapang Retak berserakan.. Tanpa kediaman Terkoyak sepi, melayang di antara pekat aroma kopi Dengar.. Tepat setelah jejak-jejak di langkahkan kau menyapa sebagai satu-satunya yang ku nantikan Disini, di peluk yang pernah kau nikmati Aku masih sendiri Mencari kehilangan, menemui perpisahan Pada letupan kenang yang memuat kekosongan Aku membicarakan senyummu di keindahan yang telah hilang Hancur berkeping, tersapu kesunyian, terinjak lara terlarut dalam pahit di seduh air mata Tunggu.. Santailah sejenak Karna tepat setelah meja-meja di tinggalkan Kedai ini menyesak sebagai satu-satunya keterangan Satu kisah yang pernah kita upayakan Beribu rencana yang pernah kita perjuangan, lenyap kau memutuskan b...

(Day 25) A Day without my self

Pernah suatu kali aku membutuhkan waktu untuk menyusun kembali vas bunga yang kurusak dengan tanganku sendiri, karena kesalahanku Tidak sebentar untuk merekatkan tiap sisi sudut pecahan-pecahannya agar vas milikku bisa tegak berdiri seperti sedia kala, kemudian bisa bermanfaat untuk sekitarnya. Aku menyadari bahwa vas ini tidak akan sekuat sebelumnya, tidak akan sama Namun aku telah berusaha membuatnya "seolah" kembali menjadi vas yang utuh, vas yang kuat dan tampak cantik ketika dijadikan pajangan. Sekian waktu, dan aku pun memecahkan kembali vas yang sebenarnya sangat rapuh itu, namun tampak kuat dari luarannya. Vas itu membentuk kepingan baru yang lebih kompleks Dengan kesalahanku yang sama dengan sebelumnya, kurusak vas itu lagi. Pabo ya, hanya orang yang sangat bodoh yang jatuh ke dalam lubang yang sama berkali-kali. And I did it again. Lalu bagaimana kelanjutan nasib vas itu, apakah dia memberiku waktu untuk kususun kembali? Apakah dia mau untuk kurangka...

28

Tanggal 28 tahun lalu... Aku sangat bahagia, berlebih malah Dikelilingi orang-orang yang teramat sayang dan peduli denganku.  Ada mas yang walau jauh tetap bisa buatku bahagia dengan caramu, terima kasih sayang... Ditambah teman-teman yang memberi kejutan di luar ekspektasi ku terhadap pertemanan disini.. Saking bahagianya hingga Allah peringatkan dengan satu hal yang mengubah hidupku.. Aku tak kunjung kedatangan tamu itu.. Deg. Tahun ini sungguh berat aku lalui, di hari kelahiran ku tak seperti tahun lalu, tak apa aku banyak berintrospeksi hari ini, lebih banyak tangis di sepanjang momen..untungnya pake masker jadi aman tidak ada yang menyadarinya.. Melalui tahun ini sendiri bukan hal yang mudah bagiku.. berat sekali. Dua hal yang berarti bagiku kini tidak lagi bersamaku.. Dua hal yang ku dapatkan dari sebuah kesalahan.. Dan akhirnya menjadi sesuatu yang sangat membekas dalam hidupku.. Kau... dan dia yang tidak pernah kita harapkan.. Akan selalu menjadi pelajaran dalam hidupku.. S...