Skip to main content

Cinta sendiri

 Semakin kesini aku semakin sulit memahami

Tiap kata yang terucap berujung rasa curiga penuh tanya

Obrolan selalu berujung pada salah paham, ucapanmu kini lebih sering menyakiti tapi selalu kau tepis dengan kata gurauan semata

Kamu bilang cuma bercanda, disini bercandaan ya seperti ini.

Agak lucu ya, cara mu memperlakukan ku yang katanya orang spesial bagi mu tapi disamakan dengan lingkungan sekitarmu.

Aku berusaha dengan seluruh effort dan ketulusan ternyata berbalas dengan waktu luang saja. 

Prioritas. Ya kata orang cinta itu memprioritaskan.

Entah, kini aku merasa sering disalahkan. Pun aku menyalahkan mu. Lalu minta maaf tapi kesalahan mu pun terulang kembali bahkan belum ganti hari. Seperti mudah untuk mengucap maaf. Tidak ada komitmen memperbaiki.

Jika ada masalah kamu sejak dulu tak pernah berubah lebih memilih lari. Silent treatment. Iya kabur. Sudah berapa kali aku mengutarakan ketidaksukaan ku pada hal itu. Ya tetap saja. Sama halnya aku pun tidak luput dari kesalahan yang berulang. Hmm untuk kali ini sepertinya aku mulai lelah dan meragu...


Meragu karena kita tidak pernah membicarakan tujuan dan rencana. Menghindar katamu sore ini. Ya. Karena kamu pun tidak punya jawaban yg menenangkan. Sama. Sepertinya kau pun mulai ragu. Perasaan cinta itu mungkin kini semu. Terpupuk hanya karena kita sudah lama bersama. Kenyataan pun jadi tertutup.


Bukan begitu?

Tapi berkali2 kamu bilang cinta, di lisan semata atau sebatas tulisan aku sayang kamu, i love you. Pembuktian cinta itu sebatas imaji. Imaji dalam mimpi. Mimpi dan angan kita. Yang sering kita pupuk dengan tawa canda dan kebersamaan. Hingga lupa menapakkan pada nyata. 

Entah perasaan dari mana, aku merasa cinta sendiri kini. Kamu, cintamu tak lagi sama. Menggebu seperti dulu. Entah aku merasa nya seperti itu. 

Dari sini aku takut mencintai lagi, mencintai seseorang dengan seluruh jiwaku. Aku takut. 

Comments

Popular posts from this blog

Day 8 Mengendalikan Diri

Happy Friday! Ah baru saja mencoba untuk konsisten nyatanya baru jalan beberapa hari sudah mulai menunda-nunda. Sedih? Iya lah, baru hal kecil seperti ini ibaratnya sesederhana menuangkan pikiran ke dalam tulisan saja nggak bisa istiqomah apalagi yang lainnya.*sambil sesenggukan dipojok. Bismillah selalu kembali mengingat motivasi dan niat awal untuk menulis rutin ketika mulai diserang prokastinasi. Kali ini aku mau bahas tentang pengendalian diri, termasuk menunda-nunda sesuatu adalah salah satu ketidakmampuan dalam mengendalikan diri. Ngga usah jauh-jauh aku sendiri masih tahap belajar mengendalikan diri, terutama mengendalikan pikiran dan perasaan agar bisa berimbang. Terlalu dominan perasaan berakibat kurang baik, begitu juga ketika kita terlalu mengedepankan logika tanpa adanya unsur perasaan. Memang harus seimbang, keduanya harus ada untuk saling melengkapi. Bagi perempuan, perasaan seringkali lebih mendominasi dalam pengambilan keputusan, baik yang berkaitan dengan diri sendi...

Nelangsa by Nidji

Bunga tunggal di karang Cantik tidak tergenggam Terpisah takdir dunia Sepertimu Hanya bisa kupandang Tidak dapat kusayang Mengharapkan jawaban Yang telah hilang Datang lagi ke hidupku Saat jauh-dekat Semuanya sama 'Ku selalu mencintaimu Sepertimu Hanya bisa kupandang 'Ku menanti dirimu Kembali ke pelukku Yang telah hilang Datang lagi ke hidupku Saat jauh-dekat Semuanya sama 'Ku selalu mencintaimu Saat jauh-dekat Semuanya sama Kau selalu dalam hatiku Tak ada yang berubah Walau bulan mentari hilang 'Ku tetap mencintaimu Dirimu...

Kopi, Lukisan dan Kenangan (Wira Nagara)

Lihat... Tepat setelah lampu-lampu dipadamkan Kau menyala sebagai satu-satunya yang ku rindukan Disini, Di tempat yang paling kau hindari Aku pernah berdiri Menggores kata menulis warna Pada ratapan panjang yang menguat dalam dinding kecemasan Aku mengisahkan kenangan di kepasrahan yang begitu lapang Retak berserakan.. Tanpa kediaman Terkoyak sepi, melayang di antara pekat aroma kopi Dengar.. Tepat setelah jejak-jejak di langkahkan kau menyapa sebagai satu-satunya yang ku nantikan Disini, di peluk yang pernah kau nikmati Aku masih sendiri Mencari kehilangan, menemui perpisahan Pada letupan kenang yang memuat kekosongan Aku membicarakan senyummu di keindahan yang telah hilang Hancur berkeping, tersapu kesunyian, terinjak lara terlarut dalam pahit di seduh air mata Tunggu.. Santailah sejenak Karna tepat setelah meja-meja di tinggalkan Kedai ini menyesak sebagai satu-satunya keterangan Satu kisah yang pernah kita upayakan Beribu rencana yang pernah kita perjuangan, lenyap kau memutuskan b...