Skip to main content

(Day 20) Tentang Senyuman dan Kebaikan yang Menular

Pernah nggak kita memulai suatu hari dengan buruk misalnya pagi-pagi sudah kesal atau bĂȘte karena sesuatu hal lalu akan berlanjut hingga siang harinya bahkan berpengaruh pada apa yang terjadi sepanjang hari? Dua hari yang lalu aku mencoba bereksperimen dengan mengubah mood ku sedari pagi dari mulai hal kecil seperti tersenyum pada setiap orang yang aku berpapasan dengannya, mulai dari keluar kosan di sepanjang jalan misal ketika aku membeli sarapan dan aku memberikan senyuman terbaik, aku memulai hari itu dengan mood yang baik melalui senyuman, sederhana tetapi jarang kita lakukan. Sesampainya di tempat tujuan pun aku mencoba menyapa atau sekadar berbasa-basi dengan orang-orang yang kutemui. Siang harinya aku mengobrol lama dengan seseorang yang menurut teman-temanku susah nyambungnya, ada perasaan penasaran dan semi tertantang untuk bisa mengorek apa yang sebenarnya di pikirkan oleh temanku yang dianggap suka menyendiri ini. dan apa yang kudapatkan? Tak disangka temanku ini mengungkapkan seluruh unek-unek yang dirasakan, dan apa yang dirasakan tidak seperti yang orang kebanyakan katakana mengenai dirinya. Bagiku belajar psikologi menjadikanku untuk tidak mudah dengan penilaian pertama, selalu ada yang membuatku penasaran untuk mengetahui kenapa dia begitu, bagaimana bisa dan segudang pertanyaan yang membuatku tidak mudah percaya dengan apa yang kulihat sekilas. Tetapi tidak memungkiri juga aku masih sering terbawa oleh emosi orang-orang disekitarku ketika membicarakan sesuatu hal. Belajar tentang manusia dalam ilmu Psikologi bukan berarti menjadikanku manusia yang sempurna yang senantiasa meilhat setiap orang itu baik. Pandangan negatif terhadap seseorang pasti muncul pada saat kesan pertama dan hal itu lah yang membuatku penasaran menyelidik alasan dibalik itu semua.
Tentang kebaikan, yang aku pelajari dari dua ibu suatu sore. Mereka tidak menunggu mampu untuk berbuat kebaikan, merasa seperti ditampar diri ini yang masih sering beralibi dengan menggunakan kata nanti. Menunda melakukan kebaikan, sedangkan di luar sana yang menurut parameter kita tidak memiliki hal-hal yang lebih tetapi mereka melakukan kebaikan tanpa kata nanti. Sepanjang berjalan melalui dua lorong berhimpitan aku merenungkan apa-apa yang telah yang bisa kulakukan selama ini tidak ada apa-apanya dengan mereka. Aku yang dengan kelabilanku, keluhanku yang tak henti, menuntut ini itu, mau bisa melakukan semuanya, mau ingin ini itu. Ya, kebaikan itu menular dan itu benar adanya, dua hal sederhana sore itu mengajarkanku tentang kebaikan sesederhana itu, tanpa pikir panjang, tanpa memperumit diri sendiri dan tanpa nanti.


Comments

Popular posts from this blog

Kopi, Lukisan dan Kenangan (Wira Nagara)

Lihat... Tepat setelah lampu-lampu dipadamkan Kau menyala sebagai satu-satunya yang ku rindukan Disini, Di tempat yang paling kau hindari Aku pernah berdiri Menggores kata menulis warna Pada ratapan panjang yang menguat dalam dinding kecemasan Aku mengisahkan kenangan di kepasrahan yang begitu lapang Retak berserakan.. Tanpa kediaman Terkoyak sepi, melayang di antara pekat aroma kopi Dengar.. Tepat setelah jejak-jejak di langkahkan kau menyapa sebagai satu-satunya yang ku nantikan Disini, di peluk yang pernah kau nikmati Aku masih sendiri Mencari kehilangan, menemui perpisahan Pada letupan kenang yang memuat kekosongan Aku membicarakan senyummu di keindahan yang telah hilang Hancur berkeping, tersapu kesunyian, terinjak lara terlarut dalam pahit di seduh air mata Tunggu.. Santailah sejenak Karna tepat setelah meja-meja di tinggalkan Kedai ini menyesak sebagai satu-satunya keterangan Satu kisah yang pernah kita upayakan Beribu rencana yang pernah kita perjuangan, lenyap kau memutuskan b...

(Day 25) A Day without my self

Pernah suatu kali aku membutuhkan waktu untuk menyusun kembali vas bunga yang kurusak dengan tanganku sendiri, karena kesalahanku Tidak sebentar untuk merekatkan tiap sisi sudut pecahan-pecahannya agar vas milikku bisa tegak berdiri seperti sedia kala, kemudian bisa bermanfaat untuk sekitarnya. Aku menyadari bahwa vas ini tidak akan sekuat sebelumnya, tidak akan sama Namun aku telah berusaha membuatnya "seolah" kembali menjadi vas yang utuh, vas yang kuat dan tampak cantik ketika dijadikan pajangan. Sekian waktu, dan aku pun memecahkan kembali vas yang sebenarnya sangat rapuh itu, namun tampak kuat dari luarannya. Vas itu membentuk kepingan baru yang lebih kompleks Dengan kesalahanku yang sama dengan sebelumnya, kurusak vas itu lagi. Pabo ya, hanya orang yang sangat bodoh yang jatuh ke dalam lubang yang sama berkali-kali. And I did it again. Lalu bagaimana kelanjutan nasib vas itu, apakah dia memberiku waktu untuk kususun kembali? Apakah dia mau untuk kurangka...

Day 6 (tanpa judul)

Sendiri Aku terperangkap pada asa semu Yang jelas tak mengantarku ke ujung sana Raga ini menolak tetapi hati ini terus bergemuruh mengharap Melihat sekitar penuh warna bergembira Namun, di sudut sendiri aku berlumur gelap Kaki ini inginkan terus berdiri berlari, mengejar asa yang tak kunjung menghampiri Lelah menyapa disetiap ujung sepi Menangis meronta, meminta jawaban dari segala tanya yang kuungkap Mungkin ini kehendak Sang Maha Pasti inginkan ku meresapi, mengerti Bahwa ada seberkas harapan yang menungguku Disana Ditempat yang belum kuketahui Bersama seseorang yang Dia janjikan pada titik temu suatu saat nanti. Aku mengerti. Sedikit lagi. Teruslah yakinkan diri Meminta restu Sang Ilahi.