Sore ini, setelah melepas lelah dengan tidur siang,
menghilangkan penat setelah seharian menjalani rutinitas. Aku terbangun dan
tersadar, waktu menyadarkanku tentang diriku, tentang apa yang telah kulalui
dan tentang apa yang kuinginkan. Membuka layar ponsel bertebaran kabar bahagia
hari ini, satu per satu teman menemukan sosok yang menjadi teman hidupnya. Melihat
bidikan kamera atas mereka yang berbahagia pada satu hari yang bersejarah ini,
aku tersadar bahkan bayangan tentang pernikahan seperti apakah dengan siapakah
gerangan sosok itu belum juga menghampiri benak ku, sangat misteri. Aku ingin,
sangat ingin, siapa yang tidak ingin jika ada seseorang yang mencintaimu dengan
utuh, menjadi temanmu seharian penuh tanpa batas waktu dan tanpa ribuan tanya
menerka bila kau bersamanya, mengingatmu, mendukung setiap langkahmu dengan doa
dan semampumu yang dia bisa menjagamu. Aku ingin namun aku tidak bisa
membayangkan akan sebahagia apa hari itu datang kepadaku. Dulu, dulu sekali
pada saat seharusnya aku berfokus pada diriku, aku pernah membayangkan hari itu
datang bersama orang yang menemani perjalananku. Membayangkan, berharap dengan
siapa yang akan menjadi teman hidup saat ini bagiku sungguh terlalu abu-abu. Aku
pernah menggantungkan harapan pada manusia dan berujung kecewa. Aku pernah
percaya kepada seseorang dan aku belajar tentang luka yang membutuhkan waktu
yang lama dalam menyembuhkannya. Aku tidak ingin bermain-main lagi dengan
cinta, karena ketika aku jatuh cinta aku akan memberikan lebih kepadanya
termasuk kepercayaanku, untuk teman perjalananku nanti, kau yang kini sama
sekali tidak terbayangkan olehku siapa sosokmu. Semoga dalam perjalanan kita
saat ini, ketika kau dan aku belum saling dipertemukan, kita bisa sama-sama
menjaga cinta kita hingga waktu itu tiba, bersabar dan tetap berusaha menjadi
lebih baik untuk diri kita saat ini. Temanku, siapapun kamu nanti, aku rindu
sungguh aku merindukanmu, sosok yang nanti akan bersamanya aku habiskan waktu,
melepas rindu yang selama ini hanya ku sampaikan pada langit biru dan awan-awan
putih lembut yang bergerumul saat menanti senja hari di loteng lantai 2
tempatku tinggal saat ini.
Happy Friday! Ah baru saja mencoba untuk konsisten nyatanya baru jalan beberapa hari sudah mulai menunda-nunda. Sedih? Iya lah, baru hal kecil seperti ini ibaratnya sesederhana menuangkan pikiran ke dalam tulisan saja nggak bisa istiqomah apalagi yang lainnya.*sambil sesenggukan dipojok. Bismillah selalu kembali mengingat motivasi dan niat awal untuk menulis rutin ketika mulai diserang prokastinasi. Kali ini aku mau bahas tentang pengendalian diri, termasuk menunda-nunda sesuatu adalah salah satu ketidakmampuan dalam mengendalikan diri. Ngga usah jauh-jauh aku sendiri masih tahap belajar mengendalikan diri, terutama mengendalikan pikiran dan perasaan agar bisa berimbang. Terlalu dominan perasaan berakibat kurang baik, begitu juga ketika kita terlalu mengedepankan logika tanpa adanya unsur perasaan. Memang harus seimbang, keduanya harus ada untuk saling melengkapi. Bagi perempuan, perasaan seringkali lebih mendominasi dalam pengambilan keputusan, baik yang berkaitan dengan diri sendi...
Comments
Post a Comment