Skip to main content

(Day 22) Tentang kamu, teman hidupku (nanti)

Sore ini, setelah melepas lelah dengan tidur siang, menghilangkan penat setelah seharian menjalani rutinitas. Aku terbangun dan tersadar, waktu menyadarkanku tentang diriku, tentang apa yang telah kulalui dan tentang apa yang kuinginkan. Membuka layar ponsel bertebaran kabar bahagia hari ini, satu per satu teman menemukan sosok yang menjadi teman hidupnya. Melihat bidikan kamera atas mereka yang berbahagia pada satu hari yang bersejarah ini, aku tersadar bahkan bayangan tentang pernikahan seperti apakah dengan siapakah gerangan sosok itu belum juga menghampiri benak ku, sangat misteri. Aku ingin, sangat ingin, siapa yang tidak ingin jika ada seseorang yang mencintaimu dengan utuh, menjadi temanmu seharian penuh tanpa batas waktu dan tanpa ribuan tanya menerka bila kau bersamanya, mengingatmu, mendukung setiap langkahmu dengan doa dan semampumu yang dia bisa menjagamu. Aku ingin namun aku tidak bisa membayangkan akan sebahagia apa hari itu datang kepadaku. Dulu, dulu sekali pada saat seharusnya aku berfokus pada diriku, aku pernah membayangkan hari itu datang bersama orang yang menemani perjalananku. Membayangkan, berharap dengan siapa yang akan menjadi teman hidup saat ini bagiku sungguh terlalu abu-abu. Aku pernah menggantungkan harapan pada manusia dan berujung kecewa. Aku pernah percaya kepada seseorang dan aku belajar tentang luka yang membutuhkan waktu yang lama dalam menyembuhkannya. Aku tidak ingin bermain-main lagi dengan cinta, karena ketika aku jatuh cinta aku akan memberikan lebih kepadanya termasuk kepercayaanku, untuk teman perjalananku nanti, kau yang kini sama sekali tidak terbayangkan olehku siapa sosokmu. Semoga dalam perjalanan kita saat ini, ketika kau dan aku belum saling dipertemukan, kita bisa sama-sama menjaga cinta kita hingga waktu itu tiba, bersabar dan tetap berusaha menjadi lebih baik untuk diri kita saat ini. Temanku, siapapun kamu nanti, aku rindu sungguh aku merindukanmu, sosok yang nanti akan bersamanya aku habiskan waktu, melepas rindu yang selama ini hanya ku sampaikan pada langit biru dan awan-awan putih lembut yang bergerumul saat menanti senja hari di loteng lantai 2 tempatku tinggal saat ini.  

Comments

Popular posts from this blog

Kopi, Lukisan dan Kenangan (Wira Nagara)

Lihat... Tepat setelah lampu-lampu dipadamkan Kau menyala sebagai satu-satunya yang ku rindukan Disini, Di tempat yang paling kau hindari Aku pernah berdiri Menggores kata menulis warna Pada ratapan panjang yang menguat dalam dinding kecemasan Aku mengisahkan kenangan di kepasrahan yang begitu lapang Retak berserakan.. Tanpa kediaman Terkoyak sepi, melayang di antara pekat aroma kopi Dengar.. Tepat setelah jejak-jejak di langkahkan kau menyapa sebagai satu-satunya yang ku nantikan Disini, di peluk yang pernah kau nikmati Aku masih sendiri Mencari kehilangan, menemui perpisahan Pada letupan kenang yang memuat kekosongan Aku membicarakan senyummu di keindahan yang telah hilang Hancur berkeping, tersapu kesunyian, terinjak lara terlarut dalam pahit di seduh air mata Tunggu.. Santailah sejenak Karna tepat setelah meja-meja di tinggalkan Kedai ini menyesak sebagai satu-satunya keterangan Satu kisah yang pernah kita upayakan Beribu rencana yang pernah kita perjuangan, lenyap kau memutuskan b...

(Day 25) A Day without my self

Pernah suatu kali aku membutuhkan waktu untuk menyusun kembali vas bunga yang kurusak dengan tanganku sendiri, karena kesalahanku Tidak sebentar untuk merekatkan tiap sisi sudut pecahan-pecahannya agar vas milikku bisa tegak berdiri seperti sedia kala, kemudian bisa bermanfaat untuk sekitarnya. Aku menyadari bahwa vas ini tidak akan sekuat sebelumnya, tidak akan sama Namun aku telah berusaha membuatnya "seolah" kembali menjadi vas yang utuh, vas yang kuat dan tampak cantik ketika dijadikan pajangan. Sekian waktu, dan aku pun memecahkan kembali vas yang sebenarnya sangat rapuh itu, namun tampak kuat dari luarannya. Vas itu membentuk kepingan baru yang lebih kompleks Dengan kesalahanku yang sama dengan sebelumnya, kurusak vas itu lagi. Pabo ya, hanya orang yang sangat bodoh yang jatuh ke dalam lubang yang sama berkali-kali. And I did it again. Lalu bagaimana kelanjutan nasib vas itu, apakah dia memberiku waktu untuk kususun kembali? Apakah dia mau untuk kurangka...

Day 6 (tanpa judul)

Sendiri Aku terperangkap pada asa semu Yang jelas tak mengantarku ke ujung sana Raga ini menolak tetapi hati ini terus bergemuruh mengharap Melihat sekitar penuh warna bergembira Namun, di sudut sendiri aku berlumur gelap Kaki ini inginkan terus berdiri berlari, mengejar asa yang tak kunjung menghampiri Lelah menyapa disetiap ujung sepi Menangis meronta, meminta jawaban dari segala tanya yang kuungkap Mungkin ini kehendak Sang Maha Pasti inginkan ku meresapi, mengerti Bahwa ada seberkas harapan yang menungguku Disana Ditempat yang belum kuketahui Bersama seseorang yang Dia janjikan pada titik temu suatu saat nanti. Aku mengerti. Sedikit lagi. Teruslah yakinkan diri Meminta restu Sang Ilahi.