Skip to main content

(Day 24) Memahami Marahnya Perempuan, Aku?

Random-story
Awalnya mau cerita apa, yang diketik malah apa.
Aku mau bercerita tentang orang-orang pada umumnya dan aku pada khususnya, entah kenapa walaupun omongan orang lain bisa menjadi pemicu kegelisahanku namun tidak jarang pula dari sana menimbulkan insight baru, seperti beberapa hari yang lalu ketika aku sempat marah-marah tidak jelas (menurutnya) dan menurutku juga sih pada akhirnya hehe. Kalo kamu yang paham perempuan pasti ngerti deh. Perempuan itu kalo udah marah yang nggak jelas gitu pasti penyebabnya nggak cuma satu alias akumulasi banyak hal yang sebenarnya disembunyikan, cuma meledak keluarnya pas momen yang dianggap nggak banget buat jadi penyebab kemarahannya, buat kamu-kamu yang peka sebaiknya tanyakan saja ke dia baik-baik apakah ada yang salah dari kamu? Atau ada yang nggak dia suka/nggak sreg dari kamu? Pasti deh habis ditanya itu, dia akan ceritakan unek-uneknya, apa-apa yang jadi akumulasi pencetus kemarahannya. And then finally you’ve got the point, pelukan deh habis itu (buat yang sudah halal ya wkwkwk). Sebenarnya simple sih berhadapan sama kaum hawa ini, yang ribet itu kan kalau kalian-kalian kaum adam nggak tau rumus/strateginya.
       Perempuan itu paling suka didengarkan, just it. Dengan kalian mendengarkannya, keluh kesahnya, bebannya, unek-uneknya tentunya tanpa judging ataupun memberikan advice terlalu dini ya. Mereka akan sangat nyaman dan merasa dihargai keberadaannya. Lovely deh sama kaum adam yang dia nggak tahu apa yang perempuan mau tetapi dia mau memberikan hatinya, telinganya, dan pancaindra lainnya untuk berusaha memahami kemauan perempuan, dengan cara apa? Dengan mendengarkan apa yang perempuan mau dan mengetahui kondisi perasaannya saat itu, bagaimana bisa tau kalo kita sebagai perempuan tidak diberikan kesempatan untuk menyampaikan dengan nyaman. Intinya kalau lagi marah itu tunggu aja reda, marahnya perempuan nggak lama kok, apalagi kalo kamu kaum adam stay disampingnya menunggu si dia manyun-manyun dengan sabar, ngepuk-pukin hahaha. Ada nggak ya laki-laki sabar yang tipe begini kalo ada boleh lah satu saya pesan Ya Allah hahaha *ngarep.

Comments

Popular posts from this blog

Kopi, Lukisan dan Kenangan (Wira Nagara)

Lihat... Tepat setelah lampu-lampu dipadamkan Kau menyala sebagai satu-satunya yang ku rindukan Disini, Di tempat yang paling kau hindari Aku pernah berdiri Menggores kata menulis warna Pada ratapan panjang yang menguat dalam dinding kecemasan Aku mengisahkan kenangan di kepasrahan yang begitu lapang Retak berserakan.. Tanpa kediaman Terkoyak sepi, melayang di antara pekat aroma kopi Dengar.. Tepat setelah jejak-jejak di langkahkan kau menyapa sebagai satu-satunya yang ku nantikan Disini, di peluk yang pernah kau nikmati Aku masih sendiri Mencari kehilangan, menemui perpisahan Pada letupan kenang yang memuat kekosongan Aku membicarakan senyummu di keindahan yang telah hilang Hancur berkeping, tersapu kesunyian, terinjak lara terlarut dalam pahit di seduh air mata Tunggu.. Santailah sejenak Karna tepat setelah meja-meja di tinggalkan Kedai ini menyesak sebagai satu-satunya keterangan Satu kisah yang pernah kita upayakan Beribu rencana yang pernah kita perjuangan, lenyap kau memutuskan b...

(Day 25) A Day without my self

Pernah suatu kali aku membutuhkan waktu untuk menyusun kembali vas bunga yang kurusak dengan tanganku sendiri, karena kesalahanku Tidak sebentar untuk merekatkan tiap sisi sudut pecahan-pecahannya agar vas milikku bisa tegak berdiri seperti sedia kala, kemudian bisa bermanfaat untuk sekitarnya. Aku menyadari bahwa vas ini tidak akan sekuat sebelumnya, tidak akan sama Namun aku telah berusaha membuatnya "seolah" kembali menjadi vas yang utuh, vas yang kuat dan tampak cantik ketika dijadikan pajangan. Sekian waktu, dan aku pun memecahkan kembali vas yang sebenarnya sangat rapuh itu, namun tampak kuat dari luarannya. Vas itu membentuk kepingan baru yang lebih kompleks Dengan kesalahanku yang sama dengan sebelumnya, kurusak vas itu lagi. Pabo ya, hanya orang yang sangat bodoh yang jatuh ke dalam lubang yang sama berkali-kali. And I did it again. Lalu bagaimana kelanjutan nasib vas itu, apakah dia memberiku waktu untuk kususun kembali? Apakah dia mau untuk kurangka...

Day 6 (tanpa judul)

Sendiri Aku terperangkap pada asa semu Yang jelas tak mengantarku ke ujung sana Raga ini menolak tetapi hati ini terus bergemuruh mengharap Melihat sekitar penuh warna bergembira Namun, di sudut sendiri aku berlumur gelap Kaki ini inginkan terus berdiri berlari, mengejar asa yang tak kunjung menghampiri Lelah menyapa disetiap ujung sepi Menangis meronta, meminta jawaban dari segala tanya yang kuungkap Mungkin ini kehendak Sang Maha Pasti inginkan ku meresapi, mengerti Bahwa ada seberkas harapan yang menungguku Disana Ditempat yang belum kuketahui Bersama seseorang yang Dia janjikan pada titik temu suatu saat nanti. Aku mengerti. Sedikit lagi. Teruslah yakinkan diri Meminta restu Sang Ilahi.